JAKARTA | MIMBARRAKYAT.CO.ID — Perempuan masih menghadapi berbagai hambatan besar dalam membangun usaha.

Laporan berjudul “Gender-Responsive Procurement in Asia and the Pacific, An Opportunity for an Equitable Future” yang disusun oleh Asian Development Bank dan UN Women menemukan bahwa akses terhadap pembiayaan, pelatihan bisnis, dan jangkauan pasar menjadi sejumlah tantangan utama yang dialami para perempuan untuk bisa mengembangkan bisnis ke skala yang lebih besar.

Gender-responsive procurement (GRP) atau pengadaan barang dan jasa yang responsif gender, dapat membantu menjembatani kesenjangan ini.

GRP adalah pemilihan barang, jasa, atau pekerjaan sipil yang secara berkelanjutan mempertimbangkan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.

Pendekatan ini bisa membuka peluang bisnis yang lebih luas bagi usaha milik perempuan maupun perusahaan yang responsif gender.

Di Indonesia, GRP dapat diterapkan di berbagai sektor, salah satunya care economy (ekonomi perawatan) yang ditopang oleh para perempuan.

Sektor ini berkaitan dengan layanan atau pekerjaan yang memenuhi kebutuhan fisik, mental, dan emosional, seperti mengasuh anak, merawat lansia, serta mendampingi penyandang disabilitas.

Pemerintah melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) bersama International Labour Organization (ILO) telah menyusun Peta Jalan Ekonomi Perawatan 2026.

Kerangka kerja ini meliputi 7 isu strategis, termasuk di dalamnya adalah pengakuan dan perlindungan bagi pekerja perawatan serta jaminan sosial di dalam ekonomi perawatan.

Dalam konteks ini, GRP dapat memperkuat ekosistem ekonomi perawatan di Indonesia dengan dua cara. GRP bisa memperkuat kapasitas perempuan untuk membangun lebih banyak WOBs serta melibatkan lebih banyak GREs dalam menjawab kebutuhan pasar dan berbagi ilmu.

Baca Juga:  BI Gelar ICFP-JCLI Ke -3 : Transformasi AI dalam Sektor Keuangan

Lalu, GRP juga bisa meningkatkan kesejahteraan para pekerja, yang diharapkan bisa mendorong Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan.

Selain dapat diterapkan di sektor ekonomi perawatan, prinsip-prinsip dalam GRP juga telah ditemukan di industri lain. Hal tersebut terbukti dari penyelenggaraan Women’s Empowerment Principles (WEPs) Awards 2026 Indonesia oleh UN Women.

Ajang ini memberi apresiasi ke berbagai perusahaan yang telah terbukti mendorong kesetaraan gender secara terukur di tempat kerja, pasar, rantai pasok, dan komunitas.

“GRP adalah salah satu langkah strategis untuk memperluas partisipasi perempuan dalam perekonomian. Melalui pendekatan ini, perusahaan dapat membuka akses pasar yang lebih luas bagi usaha milik perempuan sekaligus mendorong praktik bisnis yang lebih inklusif. Upaya ini perlu didukung oleh ekosistem yang memungkinkan perempuan tidak hanya membangun usaha, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk tumbuh dan berpartisipasi dalam rantai nilai ekonomi. Maka dari itu, kami memberikan apresiasi tertinggi kepada berbagai perusahaan dan organisasi yang menerapkan prinsip-prinsip GRP,” kata Dwi Yuliawati, Head of Programmes, UN Women Indonesia.

WEPs Awards 2026 Indonesia mengumumkan 18 pemenang yang dipilih oleh dewan juri independen dari 142 aplikasi yang diajukan oleh 94 perusahaan.

Tingkat partisipasi tersebut menjadi yang tertinggi sejak ajang ini pertama kali berlangsung pada 2020. Indonesia pun menjadi negara dengan partisipasi tertinggi di kawasan Asia Pasifik.

Adapun salah satu pemenang WEPs Awards 2026 Indonesia adalah L’Oréal Indonesia. Sebagai pemenang di dalam kategori Inclusive Procurement, L’Oréal Indonesia telah menjalankan Inclusive Sourcing Programme yang membuka peluang ekonomi secara luas bagi kelompok masyarakat yang kurang terlayani.

Baca Juga:  Babinsa Koramil 04/Susoh Dampingi Pemdes Salurkan Bantuan Pupuk Ke 120 Petani Kurang Mampu di Desa Gadang

Program berskala global ini memberdayakan perempuan, lansia, penyandang disabilitas, hingga masyarakat rentan dengan menjalankan operasional dan kemitraan yang bertanggung jawab.

Hingga 2025, Inclusive Sourcing Programme telah membantu L’Oréal Indonesia untuk membuka lebih dari 1.600 kesempatan kerja penuh waktu. Inisiatif tersebut juga telah bertanggung jawab terhadap 73% dari 40 vendor utama L’Oréal Indonesia.

Bagi L’Oréal, GRP adalah bagian dari upaya membangun rantai pasok yang mampu menciptakan nilai tambah bagi bisnis sekaligus masyarakat.

Melalui Inclusive Sourcing Programme, kami berupaya memperluas kesempatan bagi kelompok masyarakat yang kurang terlayani untuk berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi, baik melalui kesempatan kerja maupun kemitraan dengan pemasok.

“Kami percaya bahwa ketika lebih banyak kelompok masyarakat memperoleh akses terhadap peluang ekonomi, rantai pasok bisa lebih inklusif dan memberikan manfaat yang lebih luas,” kata Melanie Masriel, Chief of Corporate Affairs, Engagement & Sustainability, L’Oréal Indonesia.

Selain L’Oréal Indonesia, Komodo Water menghadirkan kisah sukses berikutnya dalam mengintegrasikan pemberdayaan perempuan ke dalam model bisnis. Komodo Water, pemenang kategori Special Mention – SME Champion, adalah social enterprise yang fokus dalam menyediakan akses air bersih dan pengelolaan air secara berkelanjutan.

Sejak 2012, Komodo Water telah menyediakan akses air bersih dan air minum yang terjangkau bagi warga di daerah terpencil di Taman Nasional Komodo dan Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Inisiatif Komodo Water memungkinkan masyarakat, khususnya perempuan dan anak-anak, untuk memanfaatkan waktu yang sebelumnya digunakan untuk mencari air untuk belajar atau mencari nafkah.

“Kami sangat mengapresiasi WEPs Awards karena memberikan sorotan yang lebih besar terhadap peran perempuan di berbagai sektor. Penghargaan ini mengingatkan kita bahwa perempuan sering kali menghadapi tantangan berlapis, termasuk dalam memperoleh akses terhadap peluang dan sumber daya. Lebih dari sekadar pemberdayaan, inisiatif ini mendorong perempuan untuk memiliki agensi, berkarya, dan memberikan kontribusi nyata dalam menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat.” kata Shana Fatina, CEO dan Founder Komodo Water.

Baca Juga:  Kemnaker : Pekerja Perlu Pahami Hak dan Kewajiban Sebelum Menandatangani Perjanjian Kerja

Sementara itu, AKAR Family, Second Runner-up di dalam kategori Gender-Inclusive Workplace, menegaskan pentingnya kontribusi sektor ekonomi perawatan terhadap pembangunan masyarakat dan ekonomi negara.

Organisasi yang berdiri pada 2015 ini telah membantu memberikan jalur karier yang lebih terstruktur bagi tenaga pendidik dan pengasuh anak melalui pengembangan hard skill dan soft skill serta evaluasi kinerja.

“Semakin banyak perusahaan yang memiliki inisiatif care dan lingkungan kerja yang ramah keluarga, semakin banyak pula perempuan, khususnya para ibu, yang dapat tetap bekerja tanpa harus mengorbankan peran pengasuhan. Anak tidak kehilangan ibunya, dan perempuan tidak perlu kehilangan pekerjaannya.” kata Yasmina Hasni, CEO AKAR Family.

Pada akhirnya, pemberdayaan ekonomi perempuan membutuhkan dukungan yang saling terhubung dari berbagai pemangku kepentingan. WOBs perlu memperoleh akses ke pasar, pembiayaan, dan pengembangan keterampilan secara terarah.

Untuk itu, sektor bisnis, khususnya GREs, dapat berkontribusi dengan menciptakan rantai pasok yang lebih responsif gender.

Lewat pendekatan yang saling terhubung ini, kesetaraan gender akan menjadi bagian tak terpisahkan dari praktik bisnis dan pembangunan ekonomi yang nantinya dapat memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. (rel)