APAKAH kalian pernah membuka ponsel hanya untuk membalas satu pesan, lalu beberapa menit kemudian sudah berpindah ke Instagram, lanjut ke TikTok, dan tanpa sadar kembali membuka aplikasi yang sebelumnya sudah ditutup ?.

Atau ketika sedang mengerjakan tugas, fokus hanya bertahan beberapa menit, setelah itu kita refleks mengambil ponsel untuk mengecek notifikasi yang sebenarnya tidak terlalu penting ?.

Hal ini memang terdengar sederhana, bahkan sudah menjadi kebiasaan sehari-hari bagi banyak anak muda saat ini. Gen Z tumbuh bersama internet dan media sosial. Hampir setiap saat ada sesuatu yang bisa dilihat, dibaca, ditonton, atau sekadar di-scroll.

Dari bangun tidur hingga tidur lagi, ponsel hampir selalu berada di samping kita. Saat baru bangun, kita mengecek notifikasi, makan sambil menonton video, lalu mengerjakan tugas sambil mendengarkan musik dan sesekali membuka media sosial.

Bahkan menjelang tidur, kita masih menyempatkan diri untuk scrolling. Tubuh memang tidak banyak bergerak, tetapi pikiran terus menerima berbagai informasi tanpa henti.

Hidup di Tengah Informasi yang Tidak Ada Habisnya

Baca Juga:  Dosen FT USU Serahkan Mesin Spindle Ke UKM di Medan Marelan

Kehidupan Gen Z hari ini memang sulit dipisahkan dari dunia digital. Data Reportal mencatat sekitar 230 juta pengguna internet di Indonesia pada akhir 2025. Pada periode yang sama, terdapat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia (Kemp, 2025).

Angka tersebut memperlihatkan betapa besarnya ruang yang ditempati internet dan media sosial dalam kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Tentu saja, teknologi bukan sesuatu yang harus selalu dilihat dari sisi negatif.

Kehadiran internet justru memberikan banyak kemudahan. Kita bisa mendapatkan informasi dalam hitungan detik, berkomunikasi dengan orang yang berada jauh dari kita, mencari materi pembelajaran, bekerja, sampai membangun relasi melalui dunia digital.

Namun, kemudahan tersebut juga datang bersama tantangan baru. Informasi yang kita terima semakin banyak, sementara perhatian kita juga semakin mudah terbagi. Ketika sedang mengerjakan satu hal, sebuah notifikasi muncul dan membuat fokus kita berpindah.

Ketika membuka media sosial hanya untuk melihat satu unggahan, tanpa sadar kita bisa
menghabiskan waktu jauh lebih lama dari yang direncanakan. Kondisi seperti ini berkaitan dengan information overload, yaitu ketika seseorang menerima informasi dalam jumlah yang sangat banyak sehingga semakin sulit untuk memilah dan
mengelolanya.

Baca Juga:  Menu MBG Kembali Telan Korban, Puluhan Siswa SMKN 1 Sine Ngawi Keracunan

Penelitian Sihombing dan Juliana (2026) terhadap Gen Z di Indonesia menunjukkan bahwa perceived information overload memiliki hubungan dengan niat untuk
melakukan digital detox.

Hal ini menunjukkan bahwa di tengah banyaknya kemudahan dunia digital, sebagian Gen Z juga mulai memiliki keinginan untuk mengambil jarak sejenak dari derasnya informasi yang diterima setiap hari.

Ketika Fokus Menjadi Semakin Sulit

Masalah lainnya muncul ketika kebiasaan berpindah perhatian tersebut terbawa ke aktivitas yang sebenarnya membutuhkan fokus. Kita mungkin pernah berniat belajar selama satu jam, tetapi dalam waktu tersebut beberapa kali membuka WhatsApp, Instagram, TikTok, atau aplikasi lainnya.

Pada akhirnya, waktu yang digunakan memang satu jam, tetapi perhatian kita
tidak benar-benar berada pada satu aktivitas selama satu jam penuh. Persoalan mengenai perhatian ini juga terlihat dalam kehidupan mahasiswa.

Penelitian Mazidet al. (2025) terhadap 482 mahasiswa membahas hubungan antara deep work, kontrol perhatian, mindfulness, distraksi smartphone, dan keterlibatan mahasiswa dalam aktivitas akademik.
Penelitian tersebut memperlihatkan pentingnya kemampuan mengontrol perhatian ketika seseorang ingin terlibat secara mendalam dalam aktivitas yang sedang dikerjakan.

Baca Juga:  Kepala Puskesmas Medan Labuhan : Jangan Takut Imunisasi

Gen Z sebenarnya memiliki akses terhadap berbagai teknologi yang membuat banyak hal menjadi lebih cepat dan praktis. Namun, pada saat yang sama, kita juga hidup di tengah berbagai hal yang terus berebut mendapatkan perhatian. Notifikasi, pesan, video pendek, hingga berbagai informasi baru dapat muncul kapan saja dan dengan mudah mengalihkan.perhatian tanpa kita sadari.

Di tengah video, notifikasi, tren, dan informasi yang terus datang, kita perlu belajar untuk berhenti sejenak. Terkadang pikiran tidak membutuhkan informasi atau hiburan baru, tetapi hanya membutuhkan waktu untuk benar-benar beristirahat.

Mungkin, di era ketika begitu banyak hal berebut perhatian kita, kemampuan untuk memilih apa yang benar-benar layak mendapatkan perhatian justru menjadi salah satu hal penting yang perlu dimiliki Gen Z. (***)

Penulis : Haritsah Mujahid (Mahasiswa Universitas Siber Asia)