BANGKOK | MIMBARRAKYAT.CO.ID – Bangkok Climate Action Week (BKKCAW) 2026 menyampaikan pesan terbuka yang sangat kuat kepada para pihak yang bertemu dalam IMF-World Bank Annual Meeting 2026 yang berlangsung di Bangkok, Thailand.
Salah satu pesan penting yang disampaikan adalah bahwa dunia membutuhkan paradigma ekonomi baru yang bisa menentukan keberlangsungan, kesejahteraan, dan keadilan bagi lingkungan dan masyarakat.
BKKCAW 2026 menyatakan, paradigma ekonomi ekstraktif yang dianut saat ini telah menyebabkan krisis lingkungan, masyarakat dan Bumi.
Paradigma ekonomi ini lebih banyak mengeksploitasi sumber daya alam dan manusia, serta menimbulkan krisis iklim dan ketidakadilan.
Pesan BKKCAW 2026 disampaikan secara terbuka kepada para menteri keuangan, gubernur bank sentral dan para pejabat eksekutif IMF dan World Bank yang berkumpul pada 12-18 Oktober di Bangkok, Thailand.
Dalam pesannya, BKKCAW mengatakan perubahan paradigma dari ekonomi ekstraktif ini akan membawa perubahan besar pada jalur menuju pemulihan, ketangguhan, dan kemakmuran bersama bagi generasi mendatang.
Direktur Eksekutif Koalisi Ekonomi Mandiri (KEM), Fito Rahdianto mengatakan, BKKCAW 2026 memberikan pandangan ekonomi yang lebih manusiawi.
“Rangkaian pertemuan di BKKCAW 2026 mengingatkan akan pentingnya keterhubungan, kepercayaan, solidaritas dan resiliensi dalam transformasi ekonomi,” kata Fito dalam keterangannya yang diterima awak media ini via email, Selasa (13/10/2026).
KEM menawarkan paradigma ekonomi berbasis alam. Selama perhelatan BKKCAW 2026, KEM memberikan ruang seluas-luasnya bagi para pemangku hak dan kepentingan untuk saling bercerita, berbagi pengalaman, dan berbagi solusi iklim sesuai kerentanan wilayah masing-masing.
Kehadiran Paviliun Ekonomi Berbasis Alam membuktikan keaktifan masyarakat Indonesia untuk terlibat dan membangun nilai ekonomi yang lahir dari kemitraan dengan ekosistem terdekat.
Kehadiran paviliun ini juga menjadi bukti nyata keterhubungan, rasa berbagi, dan solidaritas negara-negara Selatan (Global South) dalam aksi iklim dan keberlanjutan global.
Pendiri Just Transition Incubator (JUTI) sekaligus Co-Chair of the BKKCAW Steering Committee, Leo Horn-Phathanothai, mengatakan paradigma ekonomi baru yang ditawarkan dalam BKKCAW 2026 berbasis bukti.
“Narasi berbasis bukti akan membantu negara-negara Global South mendefinisikan kembali prinsip, relasi dan nilai-nilai ekonomi yang lebih humanis,” kata Leo.
Dalam serangkaian diskusi yang berlangsung sepekan terakhir di ajang BKKCAW, ada pesan bahwa masyarakat adat dan komunitas lokal tidak boleh sekadar menjadi penerima manfaat yang bersifat pasif.
“Dalam BKKCAW 2026, masyarakat adat dan komunitas lokal bukanlah peserta pasif. Mereka secara aktif mengungkapkan pengalaman dan pendapat karena merekalah yang menghidupi tanah dan berada di garis depan resiliensi menghadapi krisis iklim,” kata Leo.
Dalam paradigma ekonomi ekstraktif, masyarakat adat acapkali dipandang sebagai objek atau bahkan hambatan dalam eksploitasi alam demi keuntungan ekonomi jangka pendek.
Sebaliknya, paradigma ekonomi baru menempatkan mereka sebagai aktor utama dan penjaga kelestarian lingkungan demi kesejahteraan jangka panjang. Pemerintah Indonesia juga berencana menggeser paradigma ekonomi yang selaras dengan pengembangan bioekonomi.
Bioekonomi ini menjadi salah satu pilar strategis Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045.
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas merumuskan bioekonomi sebagai upaya mengelola sumber daya hayati secara berkelanjutan untuk menghasilkan nilai tambah tinggi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Namun, bioekonomi dapat terjebak dalam sifat ekstraktif apabila orientasinya hanya berfokus pada akumulasi produksi, konsumsi massal, dan pertumbuhan tanpa batas yang mengabaikan batas ekologis serta keadilan sosial.
Karena itu, Co-founder sekaligus Managing Partner Equatoria Capital, Inez Stefanie, mengingatkan pemerintah tetap harus memberi batas pada apa yang didefinisikan sebagai bioekonomi.
“Bioekonomi tetap bisa bersifat ekstraktif jika satu-satunya tujuannya adalah memproduksi lebih banyak, mengonsumsi lebih banyak, dan terus tumbuh tanpa batas,” kata Inez.
Selama sepekan terakhir, ribuan orang berkumpul di BKKCAW 2026. Kegiatan yang berlangsung pada 3-11 Oktober 2026 ini diikuti oleh 220 organisasi dari Asia Tenggara, termasuk Indonesia, masyarakat adat, akademisi dan elemen masyarakat sipil lainnya.
Salah satu pokok pembahasannya adalah mengenai model ekonomi baru berbasis alam yang memanfaatkan keanekaragaman hayati dan ekosistem secara berkelanjutan untuk menciptakan nilai ekonomi, lapangan kerja, serta kesejahteraan sosial, tanpa merusak atau mengeksploitasi alam. (rel)

