JAKARTA | MIMBARRAKYAT.CO.ID – Dewan Pengurus Pusat (DPP) Persatuan Umat Islam (PUI) melakukan audiensi diplomatik dengan Duta Besar Uzbekistan untuk Indonesia, Selasa (25/2/2026) kemarin bertempat di Kedutaan Besar Uzbekistan, Kawasan Kebayoran Jakarta Selatan.

Pertemuan hangat ini diawali dengan kilas balik hubungan historis yang berakar sejak berabad-abad lalu melalui penyebaran Islam ke Nusantara, mencakup pengaruh budaya dan tradisi keilmuan Islam yang kuat antara kedua bangsa Muslim ini.

Kunjungan DPP PUI ke Kedutaan Uzbekistan merupakan implementasi third track diplomacy (atau diplomasi jalur ketiga), yaitu jalur diplomasi non-negara yang melibatkan aktor masyarakat sipil seperti organisasi keagamaan untuk membangun hubungan lintas budaya dan ekonomi.

Delegasi PUI dipimpin oleh Ketua Umum, H. Raizal Arifin, M.Sos, didampingi oleh Waketum Internal, KH. Maman Abdurrahman, M.Si, Waketum Eksternal, Irfan Ahmad Fauzi, M.Hum juga didampingi oleh Bidang Hubungan Luar Negeri DPP PUI (HLN) antara lain Ketua HLN, Dr Adhe Nuansa Wibisono, M.Si, Wakabid HLN I, Okta US, Wakabid HLN II, Pandu Septa Nugraha.

Dubes Uzbekistan, Yang Mulia Oybek Eshonov menegaskan kedekatan historis antara Uzbekistan dengan Indonesia bukan hanya terkait hubungan bilateral antar kedua negara, akan tetapi berakar jauh semenjak berabad-abad yang lalu, bahkan Dubes Eshonov menyebut Indonesia- Uzbekistan memiiki “nenek moyang bersama”, dalam hal ini, Uzbekistan memiliki peran yang cukup special dama penyebaran Islam ke Nusantara.

Relasi ini terjalin hingga pada era dimana Uzbekistan masih dalam teritori Soviet, cerita yang sangat populer di Uzbekistan adalah Ketika Bung Karno berperan sangat besar dalam proses pemugaran kembali makam Imam Bukhari.

Kisah ini juga menunjukkan ada kontribusi Indonesia dalam Sejarah Islam secara global dan Sejarah nasio nal Uzbekistan pada khususnya. Sorotan utama diskusi pada Imam Bukhari Research Center di Bukhara, Imam Tirmidzi, Maturidi, serta makam Timur Lenk sebagai destinasi ziarah religi ideal bagi pimpinan DPP PUI dan para kyai.

Dalam bidang pendidikan, direncanakan kunjungan akademisi PUI, khususnya dari kampus-kampus yang berada dibawah PUI, untuk melakukan academic exercise ke beberapa universitas di Uzbekistan, yang memiliki fokus pada studi hadis.

Ekonomi Syariah, dan juga disiplin lainnya. Sementara untuk ekonomi, ada peluang jejaring pengusaha dari warga PUI dapat menjajaki peluang di Tashkent (salah satu kota perdagangan yang sibuk di Uzbekistan), dengan komoditas unggulan Indonesia seperti kelapa, karet, nanas, pisang dan kopi, bertemu pupuk, tembaga, wol, minyak-gas, aluminium, tekstil, serta benang dari Uzbekistan sebagai pintu ekspansi ke Rusia.

Paket umrah plus Uzbekistan bisa menjadi alternatif yang manerik, sejalan dengan potensi wisata halal berbasis peradaban Islam yang sedang tren.

“Kerja sama wisata religi ini selain pererat ikatan spiritual-budaya, juga mendorong manfaat ekonomi melalui lonjakan kunjungan wisatawan atar kedua negara,” papar H Raizal Arifin.

Pertemuan penuh persahabatan ini juga menyentuh kebutuhan akan peningkatan ekonomi kedua negara. Pada akhir sesi, Dubes Eshonov menyampaikan sebenarnya beliau memiliki tugas khusus untuk bisa menghadirkan Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan kenegaraan ke Uzbekistan.

Semoga dengan semakin meningkatnya tingkat kunjungan antara kedua warga negara, di tingkat elite juga semakin startegis Kerjasama ekonomi antar kedua negara.

Audiensi ini menjadi awal konkret PUI dengan Kedutaan Besar Uzbekistan, untuk penguatan pendidikan Islam, diplomasi kebudayaan, dan wisata religi global. DPP PUI siap mewujudkan momentum bersejarah ini. (***)